PENDIDIKAN

Begini Sejarah Terjadinya Perang Dunia I

Administrator
Istimewa
Perang Dunia 1 (Btb.jo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Gardannews.com - Hingga kini, penyebab Perang Dunia I masih terus menjadi tanda tanya besar.


Bahkan, para ahli terus memperdebatkan munculnya perang yang sangat merusak ini bisa terjadi di benua yang sebagian besar damai dan makmur.


Secara luas dipahami bahwa perang dunia I dimulai pada 1914 setelah pembunuhan Archduke Franz Ferdinand, pewaris takhta Austria-Hongaria, yang memicu serangkaian deklarasi perang.


Tetapi banyak ahli berpendapat bahwa ada berbagai faktor yang akhirnya memecah kondisi konflik di Eropa yang berlangsung selama beberapa dekade sebelumnya. Berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Perang Dunia I.


Awal menuju Perang Dunia I


Selama berabad-abad, kerajaan-kerajaan di Eropa yang bersaing telah mengobarkan perang yang hampir konstan terjadi satu sama lain. Alasannya mulai dari masalah penguasaan tanah, koloni, agama, sumber daya, dan persaingan dinasti. Akibatnya, perbatasan di dalam benua sering bergeser.


Tetapi setelah serangkaian kampanye militer untuk mengalahkan Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte, yang menaklukkan sebagian besar Eropa, perwakilan dari beberapa kekuatan Eropa bertemu di Wina pada 1814 dan 1815 untuk mengakhiri siklus perang yang berulang.


Perjanjian Wina mengantar Eropa pada periode stabilitas relatif yang tidak biasa untuk benua itu. Sistem diplomatik yang dihasilkan, yang dikenal sebagai Konser Eropa, dibuat untuk menjaga perdamaian dengan mendukung dinasti yang ada atas gerakan revolusioner.


Dengan perdamaian di rumah, Eropa menikmati satu abad kemajuan besar dengan pengaruh yang sesuai di panggung global. Inovasi teknologi seperti pengembangan produksi mesin, baja, listrik, dan kimia modern memperkaya benua itu.


Sementara itu, perbaikan dalam pelayaran, rel kereta api, dan senjata memungkinkan negara-negara memproyeksikan kekuatan mereka lebih jauh ke luar negeri.


Akibatnya, imperium terkuat di Eropa yaitu, Belgia, Inggris, Perancis, Belanda, Portugal, dan, kemudian, Jerman, Italia, dan Rusia mengendalikan sebagian besar dunia sepanjang abad kesembilan belas.


Banyak sejarawan meyakini masalah mulai kembali bermunculan pada pertengahan 1800-an dengan berbagai konflik regional dan perang untuk menyatukan negara-negara Jerman dan Italia. Puncaknya abad stabilitas Eropa berakhir dengan bencana besar dengan Perang Dunia I.


Bangkitnya Jerman


Setelah Perang Napoleon, keseimbangan kekuatan yang relatif labil terjadi di benua Eropa. Dengan kata lain, negara-negara terkuat di kawasan itu biasanya menghindari konflik besar satu sama lain karena kekuatan mereka cukup setara. Sebab biaya berperang hampir pasti akan lebih besar daripada manfaat yang diharapkan.


Awalnya, kekuatan Austria, Inggris, dan Rusia menjaga perdamaian dan ketertiban. Kemudian, Inggris dan Prusia (yang akan menjadi bagian dari Jerman pada 1871) mempertahankan keseimbangan ini sebagai negara terkuat di benua itu.


Namun Inggris, kekaisaran terbesar di dunia dan memiliki angkatan laut dan ekonomi terbesar, kekuatan relatifnya mulai memudar pada pertengahan hingga akhir 1800-an.


Biaya untuk mempertahankan kerajaan yang begitu luas dan mencakup dunia mulai meningkat. Selain itu, pada akhir abad kesembilan belas, negara-negara industri yang berkembang pesat seperti Amerika Serikat dan Jerman mulai mengungguli Inggris.


Jerman baru muncul sebagai negara merdeka pada 1871. Ini terjadi ketika pemimpin Prusia Otto von Bismarck menyatukan apa yang sebelumnya adalah tiga puluh sembilan negara merdeka.


Jerman baru yang bersatu ini segera menjadi sangat kaya melalui industrialisasi, dan mulai menunjukkan kekuatannya di panggung global melalui akuisisi koloni di Afrika.


Meskipun Bismarck bekerja untuk menjaga perdamaian di benua itu dengan menyeimbangkan di antara kekuatan-kekuatan lain, para pemimpin lainnya memilih menegaskan dominasi Jerman terlepas dari konsekuensinya.


Khususnya, sejarawan menggambarkan Kaiser Wilhelm II yang berbicara secara terbuka tentang keinginannya untuk supremasi ekonomi, dan militer Jerman dan berusaha untuk membuat visi ini menjadi kenyataan.


Secara khusus, ia banyak berinvestasi dalam pengeluaran militer, berharap untuk membangun angkatan laut yang dapat menantang armada Inggris yang terkenal secara global. Militerisasi Jerman yang cepat ini memicu perlombaan senjata di benua itu, yang mengganggu keseimbangan kekuatan Eropa.


Nasionalisme


Menjelang Perang Dunia I, nasionalisme memicu persaingan ketat di Eropa. Negara-negara paling kuat di benua itu sering mencoba untuk saling mengalahkan melalui kerajaan, militer, dan inovasi teknologi mereka.


Sementara itu, pemerintah, media massa cetak baru, serta sekolah dan universitas memperkuat pesan keunggulan masing-masing negara.

Dengan kenangan perang Napoleon yang sudah lama memudar, negara-negara memandang perang sebagai cara cepat dan mudah untuk mencapai kejayaan. Bahkan, beberapa orang Eropa merayakan datangnya Perang Dunia I dengan parade dan sorak-sorai penonton yang mengirim tentara mereka ke garis depan.


Meskipun nasionalisme bisa menyatukan, di negara-negara seperti Inggris, Perancis, dan Jerman pada kondisi ekstrem kekuatan yang sama memisahkan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.


Secara khusus, Austria-Hongaria, Kesultanan Utsmaniyah (termasuk Turki, sebagian Balkan, dan sebagian besar Arab Timur Tengah), dan Rusia berjuang untuk mempromosikan identitas nasional yang kohesif mengingat perbedaan internal yang besar dari populasi mereka dalam hal etnis, budaya, bahasa, dan agama.


Faktanya, tembakan pertama Perang Dunia I pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria datang di garis patahan salah satu kekaisaran multietnis itu, dengan para pembunuh mengeksekusi serangan mereka atas nama nasionalisme Slavia.


Jaringan Aliansi


Pembunuhan Franz Ferdinand bisa tetap menjadi urusan kecil yang terlokalisasi. Lagi pula, serangan itu tidak secara langsung mempengaruhi kekuatan terbesar di benua itu seperti Inggris, Perancis, Jerman, atau bahkan Rusia. Sebaliknya, itu melibatkan dua kekuatan yang lebih rendah: Austria-Hongaria dan Serbia.


Namun, para pemimpin Eropa menghabiskan waktu bertahun-tahun sebelum pembunuhan untuk membangun jaringan aliansi yang dibangun berdasarkan janji keamanan kolektif. Artinya, serangan terhadap satu negara akan diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.


Secara teori, aliansi tersebut dimaksudkan sebagai pencegah konflik; negara yang lebih kuat akan cenderung tidak menyerang negara yang lebih lemah jika negara tersebut mendapat dukungan dari sekutu yang kuat.


Kenyataannya, jaringan aliansi memiliki efek yang berlawanan yang memperluas isu lokal menjadi krisis yang meluas ke benua. Di belakang Austria-Hongaria berdiri Jerman, di belakang Serbia berdiri Rusia, dan di belakang Rusia berdiri Inggris dan Perancis.


Satu minggu setelah pembunuhan Franz Ferdinand, Kaiser Wilhelm II dari Jerman menjanjikan dukungan tanpa syarat kepada Austria-Hongaria, namun memilih menanggapi serangan itu.


Dengan jaminan kosong ini, Austria-Hongaria menyatakan perang terhadap Serbia pada 28 Juli 1914. Dalam beberapa hari, Perancis, Jerman, dan Rusia mengumumkan deklarasi perang mereka sendiri.


Dengan demikian, Eropa berbaris menuju perang atau, lebih tepatnya, seperti yang digambarkan oleh seorang sejarawan sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang ceroboh, sehingga benua itu mendapati dirinya “berjalan dalam tidur” menuju Perang Dunia I.

Penulis: Tim

Editor: M. Saimi Arrahman Rambe

Sumber: Kompas.com

Tag:PendidikanPerang Dunia ISejarah

Berita Terkait

Situs ini menggunakan cookies.